THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 31 Juli 2008

New Jilbaber

KETIKA AKU MEMULAI BERJILBAB


Aneh ya gambarnya???

Tapi gambar ini membawa banyak cerita.

Tahun 2005 yang lalu, gambar ini dibuat. Aku bukan termasuk orang yang pintar menggambar. Tapi waktu ini aku lagi suka-sukanya bikin gambar cewek pakek kerudung. Padahal saat itu aku belum memutuskan jadi jilbaber.


Ramadhan yang indah itu aku gemar nonton sinetron Kiamat sudah dekat yang dibintangi oleh Sazkia Adya Mecca. Lewat cerita itu aku tertarik dengan karakternya. Cerdas, tegas, dan berprinsip. Satu hal dari sinetron itu yang membuatku merasa terusik setiap hari. Sarah yang berjilbab. Sazkia berhasil memainkan peran Sarah dengan sangat baik.

Saat nonton, bayangan Sarah sering memudar ketika teringat film Senandung Masa Puber. Waktu itu Sazkia belum berjilbab.

Dalam hatiku sempat terucap “Andai ini artis kesehariannya pake jilbab, hmmm pasti keren”

Hari selanjutnya ada berita tentang Sazkia di infotainment. Diberitakan bahwa Sazkia ternyata sudah mulai menjadi jilbabar. Seketika kekagumanku bertambah. Aku makin suka nonton sinetron kiamat sudah dekat.

Pernah sekali waktu Sazkia keluar rumah nggak berjilabab. Padahal waktu itu dia sudah memutuskan untuk berjilbab. Tapi kemudian dia urung melangkah lebih jauh.

“Malu sama Allah,” akunya saat bercerita di infotainment

Hatiku tergerak lagi. Untuk kesekian kalinya aku mengumpulkan tekad. Tekat untuk menjadi jilbaber makin menguat.

Aku kembali menimang-nimang bagaimana kalau aku jadi jilbaber. Hmm… kelihatannya jadi jilbaber seperti memiliki dunia tersendiri. Tertutup tapi terbuka. Tertutup dalam urusan penampilan, tapi terbuka dalam segala pengetahuan.

Aku juga nggak perlu ngeceng. Hehehe… Kelihatannya kalau jadi jilbaber aku nggak akan terlalu focus memperhatikan penampilan. Yang penting sopan. Itu saja kiranya cukup. Yang terpenting adalah membuka wawasan seluas mungkin.

Masalah perilaku??? Ya… memperbaikinya sambil jalanlah. Yang pasti aku nggak boleh salah mengartikan dalam pemakaian jilbab. Hmmm bisa nggak ya??? Semoga deh…

Ya, semoga dengan berjilbab bisa mengangkat derajat di mata Allah. Semoga bisa menjadi perisai dari perbuatan tercela. Pokoknya semuanya harus LILLAH.

Ramadhan waktu itu aku mulai terbiasa mengenakan jilbab. Terutama di sekolah. Tidak ada yang curiga mengenai niatku untuk berjilbab. Karena teman-teman cewek yang biasanya nggak berjilbabpun juga berjilbab. Di keseharian, aku juga mulai membiasakan diri untuk berjilbab. Dan dengan berjilbab, semoga bisa menambah semangat untuk menggali ilmu agama lebih banyak.

Saat itu, aku sering menggambar cewek-cewek berjilbab, meski gambarnya tidak terlalu bagus. Tapi ada makna di setiap goresannya.hehe…

Aku juga mulai menyukai nama Az-Zahra. Entah apa yang membuatku menyukai nama itu. Padahal waktu itu aku belum begitu tahu sosok Az-Zahra. Tapi aku sangat mengidolakan nama itu. Sehingga tertarik memberikan nama itu pada namaku.

Hari-hari kulalui dengan optimis dan penuh harap semoga setelah lebaran aku bisa berjilbab.

Dalam buku khusus kutuliskan segala isi hati dan pengetahuan-pengetahuan agama yang kudapat. Kurasakan semangat yang lebih besar dari sebelumnya untuk lebih mendalami ilmu agama.

Hmmm…

Satu lagi yang kupikirkan saat itu. Kalau berkerudung, otomatis seragam sekolah harus panjang (Waktu itu masih ada kesepakatan berseragam di kelasku). Padahal seragamku kan pendek semua. Apa iya mau minta orang tua buat belikan seragam?

Terlebih waktu itu kan mau lebaran …

Lantas doaku selalu kuucap hampir setiap hari. Yang intinya,

“Ya Allah, kalau memang Engkau meridhoi Fina pakek jilbab maka beri kesempatan Fina untuk memenangkan lomba menulis,”

Aku tahu, Allah tidak ada akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Dan Alhamdulillah, beberapa hari sebelum lebaran ada kabar bahwa tulisanku mendapat juara.

Subhanallah, permohonan yang bagiku sulit, tapi sangat mudah bagi Allah…

Terimakasih ya Allah…

***


Waktu berjalan. Melewati lebaran dan memasuki sekolah. Tidak seperti teman-teman lain yang memakai seragam seperti biasa. Aku ke sekolah tanpa seragam. Itu karena seragam panjangku belum jadi. Dan saat itu sudah kubulatkan tekadku untuk berkerudung. Jadi meski tanpa seragam, aku tetap berusaha mengukuhkan niat.


Lihat saja foto di kelas yang satu ini. Hanya aku sendiri yang tanpa seragam. Biar tidak kentara, kututupi dengan jaket.hihihi…

Mungkin banyak yang surprise dengan tampilanku kali ini. 14 November menjadi hari pertamaku memasuki dunia baru dengan jiwa yang baru pula. I’m Be jilbaber… The nice momoent.

Eitz… sebelumnya aku emang pengen bikin sensasi baru. Tapi lama kelamaan aku menyadari akan banyaknya hikmah dibalik itu semua.

Terus terang aku lebih percaya diri dari yang sebelumnya. Aku juga merasa lebih enjoy.

Hari pertama dan beberap hari setelahnya memang banyak pertanyaan mengapa aku memutuskan untuk berjilbab. Bukan hanya teman-teman tapi juga guru, Kujawab saja apa adanya.

Malah ada yang sempat melontarkan kata, “Mbak Fina itu tobat,”

Hehehe… manusia kan musti tobat setiap waktu kan?

Yang nggak aku lupain adalah ketika aku sempat dijuluki SARAH (Tokoh utama di Kiamat Sudah Dekat. Dan yang dijuluki jadi Fandi adalah As’at teman sekelasku. Hihihi…

Dengan berjilbab,

Aku merasakan perubahan besar dalam hidup. Yah… aku merasakannya saat itu.

Entah… kapan Allah mulai mendatangkannya, tapi semenjak ramadhan kurasakan sebuah cinta yang begitu indah. Mulai menyadari bahwa cinta pada Allah itu sangat luar biasa indahnya. Dan mulailah timbul rasa rindu pada Rosulullah yang mendalam.

Ada satu lagi hal yang entah itu dating darimana. Hanya saja, tiba-tiba aku pengen mondok. Aku ingin merasakan kehidupan di pondok. Kebersamaan, tirakat, ilmu, semuanya.

19/6/2006

Aq nggak tahu kenapa akhir2 ini aq pengen banget jadi santri di pesantren. Mendalami ilmu agama, belajar nahwu. Kayanya lebih seru di pesantren. Pesantren sepertinya memberikan kesan-kesan lain.

Itu kurasakan sebelum menuliskan novel pertamaku yang Gus Yahya Bukan Cinta Biasa. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku jadi punya semangat untuk menulis novel. Kuluapkan rasa interestku pada pondok lewat cerita di novel yang bersetting pesantren. Settingnya memang belum kuat, karena aku sendiri kan belum pernah nyantri waktu itu. Dan aku juga belum mengenal lebih dekat seputar pesantren. Jadi saat membuat novel, aku lebih banyak interview ke teman-teman santri, ke guru, ke orang tua dan dari buku…

Salah satu tokoh utama ada yang kunamai Zahra. Aku mulai menambah kekagumanku pada Sayyidah Fathimah. Dan aku mulai banyak mencari tahu tetang kehidupan beliau.

Tokoh Zahra dalam novel, bukanlah imaginasi tentangku. Hanya saja, aku menginginkan banyak perubahan pada diriku menjadi seperti yang kuperlihatkan lewat peran Zahra dalam novel, atau bahkan lebihlah.hehe…

Memang nggak gampang menjadi pribadi yang mantap seperti yang kuinginkan lewat tokoh Zahra. Ya… setidaknya memberikan motivasi deh…

Sampai sekarang, aku menyukai jilbab, aku menyukai orang-orang berjilbab dan berakhlak baik, aku setia mengidolakan Sayyidah Fathimah, aku masih menyukai Sazkia Adya Mecca, aku menyukai pesantren. Semuanya adalah inspirasi dan motivasiku. Aku masih jadi manusia biasa yang perlu diperbaiki setiap harinya.

Meski aku masih seperti ini. Tapi percaya atau tidak, setelah berjilbab aku banyak menemui perubahan besar dalam hidup. Bukan merasa lebih baik dari orang lain. BUKAN.

Pokoknya aku merasa lebih baik dari yang sebelumnya. Aku merasa lebih baik dari Fina yang sebelum pakek jilbab.

LEBIH PERCAYA DIRI, ITU PASTI…

Hehehe,,,,

SO, let be jilbaber... Sob…

-Love to Allah, Love To Rosulullah, Love to All of you…-

0 komentar: